Tunggu Sebentar

 

TeknologiJogja Digital Valley Terus Cari Founder Startup Tahan Banting

Vera AnggunJanuari 21, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/01/jdv.jpg

Startup atau usaha-usaha rintisan di bidang teknologi terus bermunculan, tak terkecuali di Yogyakarta. Banyaknya kampus di Yogyakarta membuatnya punya potensi pengembangan ekosistem startup digital yang besar. Jumlah kampus-kampus berbasis teknologi yang cukup banyak membuat Yogyakarta memiliki sumber daya manusia (SDM) yang melimpah untuk membangun ekosistem startup digial.

Tapi potensi yang besar itu bukan berarti tanpa tantangan sama sekali, karena bukan termasuk kota industri atau bisnis, tak jarang startup di Jogja kesulitan untuk mencari pasar.

“Kalau untuk market dan sebagainya memang larinya ke pusat kota bisnis. Jogja bisa sih, tapi kalau untuk bisnis tidak setinggi Jakarta atau Bandung. Karena Jogja lebih ke pariwisata dan kreatif kan,” ujar General Manager Jogja Digital Valley, Geri Gebyar, Senin (20/1).

Jogja Digital Valley (JDV), menjadi salah satu inkubator startup digital di Jogja yang memberikan mentoring, funding, serta acces market bagi startup yang diinkubasi. JDV merupakan program Telkom Indonesia di bawah Indigo Creative Nation yang didirikan pada Agustus 2013 lalu. Sederhananya, JDV merupakan wadah inkubasi startup-startup digital di Jogja yang didukung dengan working space.

JDV ingin mengambil peran penting dalam mengembangkan ekosistem startup digital di Yogyakarta. Geri mengatakan sangat sayang jika potensi besar yang dimiliki Yogyakarta tidak dikembangkan secara optimal.

“Caranya dengan menumbuhkan startup-startup baru, kemudian startup yang mampu berakselerasi dan survive dengan mengadakan kegiatan dan working space yang kami buka secara publik,” lanjut Geri.

Sejauh ini, kolaborasi antara inkubator di Yogyakarta kata Geri sudah cukup baik. Kolaborasi antarstakeholder baik dari pemerintah maupun swasta juga cukup positif untuk mendukung ekosistem startup.

 Khusus Startup Digital

JDV khusus menginkubasi startup-startup digital. Startup yang diutamakan untuk menjadi member pun khusus startup digital. Selain working space dan sejumlah program pendampingan, JDV juga menyediakan ruang inkubasi bagi startup-startup digital.

Working space di JDV memang dibuka untuk publik, semua bisa menggunakannya apabila telah mendaftar sebagai member.

“Namun khusus untuk yang penggiat teknologi. Jadi working space di sini bisa buat freelance bisa buat startup,” ujar Geri.

Hal ini karena output yang ingin ditekankan oleh JDV adalah produktivitas untuk mengembangkan bisnis dan keterampilan, jadi jika ada mahasiswa atau siswa yang ingin mengerjakan tugas di sana tidak disarankan.

Untuk bisa menjadi member JDV juga tak terlalu sulit, cukup mendaftar dengan mengisi formulir pendaftaran berupa identitas diri dan bisnisnya. Setelah calon member melakukan pendaftaran, JDV akan memverifikasi data tersebut.

“Kita tidak membebankan biaya berapapun kepada member maupun startup yang ada di lingkungan kita. Jadi memang member secara gratis mampu menggunakan fasilitas yang kita sediakan. Startup yang kita inkubasi juga, cuman mereka mendapat porsi yang lebih besar,” lanjutnya.

Bagi startup yang ingin diinkubasi oleh JDV, pertama mereka harus melakukan registrasi langsung ke Indigo. Jika kriteria persyaratan yang diperlukan terpenuhi, baru startup tersebut bisa mengikuti program inkubasi.

“Di inkubasi kita itu ada empat tahapan, customer validation, product validation, business model validation, dan market validation,” ujarnya.

Setiap tahapan itu ada key performance indicator (KPI) yang harus dipenuhi. Setiap hasil akhir dari KPI terebut akan menjadi bahan evaluasi, startup tersebut akan lanjut atau berhenti di tahap itu. Pada 2019 kemarin ada sekitar 10 startup yang diinkubasi oleh JDV.

 Masalah Startup Jogja

Bagi startup yang masih dalam tahap perkembangan, kantor merupakan salah satu masalah yang dihadapi, mengingat menyewa bangunan untuk dijadikan kantor di Jogja tidaklah murah. Namun hal itu tak jadi masalah lagi setelah banyaknya co-working space di Jogja. Kata Geri, co-working space tidak hanya membuat startup bisa bertahan, tapi juga bisa meluaskan jaringan dan wawasan karena kerap bertemu dengan orang-orang baru. Yang kini jadi persoalan utama startup di Jogja kata Geri justru masih minimnya founder startup yang mampu untuk berjuang. Padahal startup itu identik dengan perjuangan di awal, rela berkorban tenaga dan waktu, bahkan materi di awal-awal pendirian usahanya.

“Saya belum lihat bahwasanya dari sisi founder itu mereka mampu untuk survive, untuk membangkitkan bahwa startup saya mampu berjalan. Padahal mental founder harus tahan banting berjuang untuk perusahaannya bisa survive, sustain, mental tidak boleh seperti karyawan,” ujar Geri.

Persoalan terbesar lainnya yang ditemui startup di Jogja biasanya pasar dan ide bisnis. Sampai sekarang pun, Geri masih kerap kesulitan mencari startup yang benar-benar memenuhi kriteria untuk diinkubasi.

“Startup banyak sebenarnya, cuman kualifikasi yang kita kasih itu kadang belum bisa diterima sesuai dengan kriteria yang kita inginkan,” jelasnya. (Widi Erha Pradana / YK-1)

Source : https://kumparan.com/pandangan-jogja/jogja-digital-valley-terus-cari-founder-startup-tahan-banting-1sgX4L2RlcB