Tunggu Sebentar

 

Gaya HidupBakar Uang di Dunia Startup, Apa sih Artinya?

Agus FebriantoFebruari 18, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/02/IMG_2499.jpg

Istilah bakar uang terdengar tidak asing. Saat membaca berita soal startup atau usaha rintisan di Indonesia istilah tersebut lazim diucapkan. Bakar uang menjadi fenomena startup di Indonesia saat ini.

Lantas, apa sih arti dari istilah tersebut?

Jadi, membakar uang di dunia startup itu tidak diartikan secara harfiah. Bahwa mereka benar-benar mereka membakar uang dengan api.

Istilah ini, secara sederhana bisa diartikan sebagai sebuah usaha untuk menghabiskan uang banyak dalam proses pengembangan bisnis. Misalnya saat akuisisi pasar dan marketing.

Jadi, perusahaan rintisan menghabiskan uang dalam jumlah banyak untuk mendongkrak popularitas brand mereka. Biasanya, bakar uang ini dilakukan dengan cara memberikan promo besar-besaran kepada konsumen. Atau membelanjaka uang untuk keperluan iklan dalam jumlah yang sangat besar.

Pasti di antara kalian sempat memperhatikan salah satu e-commerce yang iklannya tiada henti mengisi acara-acara televisi setiap harinya. Ya, pasang iklan di tv secara massif merupakan salah satu cara perusahaan membakar uangnya.

Contohnya, perusahaan uang digital Ovo. Beberap bulan ke belakang, Ovo memutuskan untuk berhengi membakar uang. Promo-promo yang biasa diberikan kepada penggunanya, kini lambat laun ditiadakan

Ritual bakar uang ini diharapkan para startup agar bisa menambah valuasi perusahaan mereka.

Praktik bakar uang ini sukses dilakukan oleh e-commerce milik taipan Jack Ma, Ali Baba.

Saat pertama berdiri pada 1999, Alibaba melakukan praktik bakar uang. Hasilnya, mereka mendapat manfaat berupa profit dengan meraih rinhkay penjualan tertinggi di dunia pada tahun 2009.

Tapi, tak sedikit pula perusahaan yang merugi bahkan hingga bangkrut setelah “pesta pora” bakar-bakar uang. Di Indonesia, salah satu unicorn startup adalah salah satu contoh perusahaan yang tidak sukses dalam membakar uangnya. Perusahaan ini bahkan sampai memecat ratusan pegawainya.

Jadi, istilah bakar uang ini adalah untuk memancing penjualan dan tingkat keterkenalan brand perusahaan tersebut. Sehingga, praktik ini harus memilki jangka waktu yang telah ditentukan.

Setelah fase itu, perusahaan harus berjalan normal seperti biasa. Maka dari itu, kita-kita sering menemukan e commerce atau transportasi online, yang awalnya, gila-gilaan dalam memberikan promo, kini malah hampir tak memberikan promo kepada pelanggannya.

Itulah, salah satu contoh perusahaan yang sudah menghentikan fase bakar uang.

Di samping itu, praktik bakar uang ini pun sebetulnya berbahaya bagi iklim persaingan usaha yang sehat. Karena, apabila ada satu perusahaan yang jor-joran dalam membelanjakan uangnya untuk promosi, secara tidak langsung bisa mematikan usaha pesaingnya. Ini tentu bukan praktik usaha dengan persaingan yang sehat.