Tunggu Sebentar

 

Gaya HidupSaldo Rekening Habis Terus? Alokasi Pengeluaran Solusinya!

Teresa Permata AntonFebruari 20, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/02/thumbnail-no-money-1280x854.jpg

“Duh, baru tengah bulan, kok uangku tinggal sedikit ya? Masih harus bayar tagihan kartu kredit dan nongki-nongki cantik pula. Gimana, nih?”

Cuitan tersebut tentunya sudah sangat lazim terjadi di sekitar kita, terutama bagi kaum Milenial dan Gen Z. Perilaku masyarakat yang sering terlampau konsumtif tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di banyak negara di dunia. Sebagai contoh, di Australia, kaum Milenial menerima rata-rata 19,5 paket setiap tahunnya, sementara kaum Gen Z menerima rata-rata 15,4 paket setiap tahunnya (dilansir dari mybusiness.com.au). Pemicu utama hal tersebut adalah perkembangan teknologi, khususnya teknologi digital yang berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun belakangan. Kemunculan berbagai platform digital, seperti e-commerce, media sosial, serta aplikasi-aplikasi dengan beribu penawaran menarik seolah menghipnotis masyarakat untuk menganggap bahwa ‘tren’ konsumerisme merupakan sesuatu yang wajar. Padahal, hal tersebut justru merupakan racun yang menjerumuskan masyarakat. Masyarakat menjadi enggan atau sulit menabung. Saldo ATM menjadi tergerus terus-menerus. Lantas, bagaimana solusinya?

Tentukan Komposisi Pengeluaran

Pengaturan komposisi pengeluaran sangat esensial bagi kehidupan kita. Selain dapat mengatur dan membatasi pembelanjaan uang, komposisi ini juga sekaligus dapat membantu Anda dalam mengatur keuangan dalam jangka panjang, sehingga tujuan-tujuan pribadi Anda dalam beberapa tahun ke depan dapat tercapai (membeli mobil, menikah, DP rumah, dan lain-lain).

Jenis pengeluaran yang ideal terbagi menjadi empat, yakni : konsumsi, dana darurat, amal ibadah, dan investasi.

  • Konsumsi

Konsumsi selalu menjadi hal nomor satu dan tak pernah luput dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, konsumsi biasanya menempati persentase paling besar dalam komposisi pengeluaran. Pengeluaran dalam konsumsi secara garis besar meliputi : transportasi, makan, tempat tinggal, belanja bulanan, dan lain-lain. Besarnya persentase disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

  • Dana Darurat

Entah sudah berapa orang yang mengeluh akan tak adanya uang yang tersisa dalam rekening mereka. Apakah Anda termasuk salah satunya? Jika iya, maka kebiasaan konsumsi berlebihan harus Anda kurangi perlahan-lahan. Selain itu, biasakan untuk menyisihkan uang Anda untuk dana darurat. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi hal-hal yang mendadak atau diluar dugaan. Misalnya, biaya rawat inap rumah sakit ketika Anda terkena demam tinggi. Jika dana darurat sudah tersedia, maka Anda tak perlu panik jika hal-hal diluar dugaan terjadi. Besarnya persentase dana darurat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing layaknya konsumsi. Namun, jumlah dana darurat yang ideal adalah tiga sampai 6 kali pengeluaran bulanan (dikutip dari wellsfargo.com). Jadi, jika pengeluaran bulanan Anda adalah sebesar tiga juta, maka dana darurat yang harus Anda siapkan berkisar antara 9-18 juta. Semakin banyak, semakin baik.

  • Investasi

Mungkin Anda pernah mendengar stereotip bahwa investasi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah bekerja atau bahkan kaum elit. Namun, semuanya itu tidak sepenuhnya benar. Investasi memang membutuhkan modal, namun sekarang ini sudah banyak instrumen investasi yang tidak memerlukan modal besar, contohnya reksa dana. Investasi dapat menjadi alat yang signifikan untuk mewujudkan keinginan-keinginan Anda dalam jangka waktu pendek, sedang, maupun panjang. Terdapat beberapa contoh instrumen investasi yang dapat Anda pertimbangkan, contohnya : deposito, saham, reksa dana, obligasi, P2P Lending, dan lain-lain. Besarnya persentase investasi disesuaikan dengan kebutuhan dan instrumen investasi disesuaikan kebutuhan dan profil risiko Anda.

  • Amal Ibadah

Besarnya amal ibadah disesuaikan dengan kerelaan hati dan kemampuan ekonomi masing-masing orang. Namun, usahakan untuk tidak memberi terlalu kecil.

Nah, sekarang sudah tahu, kan caranya untuk mengalokasikan dana supaya uang di rekeningmu tidak terus-menerus habis? Mulai sekarang, yuk say no to consumerism dan say yes to financial planning!