Tunggu Sebentar

 

Food & BeveragesMie Lidi Geli, Bisnis Unik Penuh Nostalgia

Henney28Maret 30, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/03/mie-lidi-geli.jpg

 

Sempat populer sekitar tahun 90 an, mie lidi kini seolah jadi jajanan unik yang jarang ditemukan. Bentuknya yang seperti lidi dengan taburan bumbu pedas dan asin membuat camilan ini banyak digemari anak-anak, sebelum akhirnya mulai meredup popularitasnya sekitar tahun 2000 an. Namun beberapa tahun terakhir jajanan yang populer dikalangan anak sekolah 90 an ini kembali meraih popularitasnya kembali dengan hadirnya Mie Lidi Geli milik Famela Nurul Islami.

Tak cuma mengembalikan popularitas mie lidi, bahkan Famela Nurul Islami yang kera disapa Nurul ini bahkan mengemasnya menjadi jajanan kenikian yang menarik. Jika dulu, jajanan ini identik sebagai jajanan anak SD, alumni dari Univeritas Padjajaran fakultas Ekonomi ini bahkan semua kalangan termasuk para milenial dengan inovasi rasa yang ditawarkan, yakni Original, BBQ, Spicy, Double Spicy, Cheese, Sweet Corn, dan Seaweed.

Awal Mula Mengembangkan Bisnis

Bermula dari even marketing di kampus, Nurul mencoba membawa kembali jajanan yang sempat langka di pasaran ini dan menjajal peluangnya. Kemudian di tahun 2013, Mie Lidi Geli hadir ke pasaran dengan sebagai jawaban dari keresahan Nurul yang menggebu-gebu ingin mencoba berbisnis kuliner. Dan pilihannya tertuju pada mi lidi, jajanan yang mulai langka pada saat ini. Terlebih lagi pada saat yang sama, banyak bertebaran nostalgia mengenai generasi 90an. Sehingga mie lidi lah yang jadi pilihannya. Dalam sebuah wawancara saat bercerita mengenai misinya mengembangkan bisnis mie lidi, Nurul menyebut jika dirinya ingin mengenalkan jajanan daerah dengan cita rasa yang lebih modern.

Eksekusi Ide

Untuk mewujudkan idenya mengembangkan bisnis mie lidi, Nurul becerita bermodal awal sekitar Rp 1 juta, yang kemudian digunakan untuk membeli bahan baku dan juga mesin cetak adonan. Skill membuat mie lidi ini ia dapat dari para pengrajin mie lidi yang sudah lama beroperasi di kawasan Garut, Jawa Barat. Soal nama brand-naa sendiri, Nurul mengaku jika nama tersebut didapat dari keisengannya saat berusaha menemukan nama yang pas untuk brand mie lidinya. Dan ketiga paduan kata tersebut cukup unik serta gampang diingat, sekaligus memberi kesan jika camilan yang ia produksi ini sangat cocok jadi teman buat santai.

Inovasi rasa

Agar membuat produknya berbeda dengan yang ada dipasaran saat ini, Nurul pun berinovasi dnegan rasa-rasa baru. Awalnya memang masih menggunakan bumbu yang dibeli jadi, namun seiring waktu ia pun mengembangkan sendiri cita rasa yang khas untuk mie lidi buatannya. Hingga membuatnya populer dan dikenal hingga saat ini, yakni BBQ, Spicy, Double Spicy, Cheese, Sweet Corn, dan Seaweed.

Strategi dalam mengembangkan bisnis

Selain menawarkan berbagai varian rasa baru yang lebih kekinian, dalam proses awal pemasarannya Mie Lidi Geli menggunakan berbagai macam strategi. Mulai dari dengan promosi di sosial media, hingga ikut serta dalam berbagai macam bazar yang diadakan di Bandung dan Jakarta. Karena mie lidi ini merupakan jajanan masa kecil yang cukup laris, sehingga kebanyakan konsumen yang membeli lantaran memang ingin bernostalgia. Setahun beroperasi, Mie Lidi Geli milik Nurul bahkan mampu mendapatkan omset hingga 55 juta rupiah ketika sedang ramai.

Selain dengan metode pemasaran melalui sosial media, Nurul juga mengemas produknya dengan kemasan kekinian agar produknya punya daya saing yang kuat. Desain yang ceria, dengan warna-warna cerah serta ikon kemasan yang dinamai dengan “Non Lili”, membuat produk Mie Lidi Geli sukses di pasaran dan bahkan kini produksi Mie Lidi Geli bisa menembus hingga 4000 pack per bulannya.

Strategi selanjutnya yang dikembangkan Nurul untuk mellebakan sayap Mie Lidi Geli ialah dengan membuka reseller. Sedari awal, ia memang menargetkan anak muda sebagai target market utamanya, kemudian ia berpirik untuk mengajak mereka tak hanya jadi konsumen tapi juga ikut serta memasarkannya. Sehingga akan ada koneksi jiwa mudanya jadi lebih gampang menawarkan Mie Lidi Geli ke target konsumen, begitu menurut Nurul.

Awalnya sistem reseller cuma dijalankan di Bandung dan juga Jakarta, namun pesatnya popularitas Mie Lidi Geli membuatnya kini juga membuka reseller di berbagai kota besar lainnya. Seperti Yogyakarta, Semarang, Solo dan kota-kota lainnya. Dalam satu tahun, kini Mie Lidi Geli sudah memiliki 30 lebih reseller yang berada di berbagai wilayah dan hingga kini masih membuka tawaran reseller.