Tunggu Sebentar

 

UMKMUMKM: Pengertian, Karakteristik, Contoh, Jenis, dan Strategi Pengembangannya

Sigid SetyoApril 18, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/04/apa-itu-UMKM-2.jpg

Selama 3 dekade terakhir dalam sejarah, Indonesia telah mengalami 3 kali krisis ekonomi: 2011, 2008, dan paling parah tahun 1998. Dalam semua periode krisis tersebut, yang memegang peranan penting sebagai daya tahan ekonomi bangsa, ternyata adalah UMKM.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan UMKM itu? Bagaimana karakteristiknya? Dan Apa keunggulannya sehingga UMKM dapat menjadi sekoci-sekoci penyelamat ekonomi bangsa?

Apa Itu UMKM

UMKM merupakan sebuah terminologi yang sering digunakan dalam dunia bisnis untuk menggambarkan usaha dengan kriteria tertentu. Ia merupakan singkatan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Dari kepanjangan tersebut, kita dapat mengenali bahwa ada 3 macam level usaha yang dirujuk dari istilah tersebut.

Pengertian UMKM

Level usaha yang dimaksud adalah usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah.

Yang dimaksud usaha mikro adalah jenis usaha produktif yang dimiliki oleh perorangan atau badan usaha tertentu perorangan. Maksud badan usaha perorangan adalah badan usaha yang didirikan atas nama orang per orang (bukan kerjasama 2 orang atau lebih). Usaha produktif ini harus memiliki kriteria sebagai usaha mikro sebagaimana mengacu pada UU no. 20 tahun 2008.

Usaha kecil juga merupakan usaha produktif, hanya ia dapat dimiliki oleh perorangan maupun badan usaha bersama. Dengan syarat ia tidak termasuk bagian cabang atau anak usaha dari usaha besar dan menengah lainnya. Serta, usaha produktif ini juga harus memenuhi kriteria usaha kecil yang merujuk pada UU no. 20 tahun 2008.

Sedangkan usaha menengah memiliki pengertian yang serupa dengan usaha kecil, hanya dibedakan berdasarkan kriteria atau cirinya. Kriteria untuk usaha menengah pun telah diatur pada UU no. 20 tahun 2008 tentang UMKM.

Untuk mendapatkan info lengkap tentang isi undang-undang tentang UMKM tersebut, Anda dapat mengunduhnya di tautan ini. Undang-undang ini sekaligus menjadi dasar hukum tentang UMKM yang masih berlaku sampai sekarang dan belum pernah mengalami revisi.

Karakteristik UMKM

Bagaimana karakteristik UMKM sebagaimana dimaksud dalam undang-undang tersebut?

Perbedaan karakteristik setiap usaha (mikro, kecil, dan menengah) tersebut didasarkan pada 2 hal: nilai aset dan omset. Nilai aset yang dimaksud di sini adalah semua aset termasuk modal di luar dari bangunan dan tempat usaha.

Lalu, berapa nilai aset dan omset yang jadi pembeda usaha kecil, mikro, dan menengah?

Nilai aset usaha mikro dibatasi paling banyak adalah Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Di atas nilai tersebut, ia telah digolongkan sebagai usaha kecil. Sedangkan omset maksimalnya adalah Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) per tahunnya. Di atas omset tersebut, ia sudah dapat digolongkan sebagai usaha kecil.

Kriteria usaha kecil adalah memiliki nilai aset antara 50 – 500 juta rupiah (tanpa menghitung tanah dan bangunan) dan omset antara 300 juta – 2,5 milyar rupiah. Salah satu kriteria saja melebihi batas angka tersebut, maka sudah dapat digolongkan sebagai usaha menengah.

Sedangkan kriteria usaha menengah adalah memiliki nilai aset bersih 500 juta – 10 milyar rupiah dan omset per tahun antara 2,5 – 50 milyar rupiah. Salah satu saja dari kriteria tersebut melebihi batas angkanya, sudah dapat digolongkan sebagai usaha besar.

Untuk memahami lebih mudah tentang perbedaan masing-masing, Anda dapat menyimak video singkat berikut.

Dari pengertian di atas, jelas bahwa kategori yang digunakan hanya memiliki 2 variabel: aset bersih dan omset. Dan sama sekali tidak menyebutkan tentang jumlah cabang atau jumlah karyawan yang bersangkutan.

Ciri UMKM

Yang telah dijelaskan di atas adalah ciri atau kriteria UMKM berdasarlam undang-undang. Adapun ciri dari usaha mikro yang dapat diamati adalah sebagai berikut. (Beberapa ciri mungkin masih ada mungkin juga tidak tergantung perkembangan UKM tersebut.)

  1. Tidak memiliki komoditi khusus, dapat berganti sesuai kondisi pasar.
  2. Lokasi usaha dapat berpindah dan tidak menetap.
  3. Administrasi belum rapi, pencatatan keuangan masih bercampur antara pribadi dan bisnis.
  4. SDM memiliki tingkat pendidikan, keterampilan, atau keahlian yang relatif rendah.
  5. Belum mampu mengakses lembaga keuangan karena berbagai sebab
  6. Belum memiliki izin usaha legal (izin administratif) dari pemerintah.

Pada akhirnya, ketika usaha mikro tersebut hendak naik tingkat ke usaha kecil, ia akan melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut.

Syarat UMKM

Apa saja syarat untuk mendirikan UMKM?

Syarat usaha mikro sebenarnya tidak memerlukan izin karena berjualan di depan rumah saja sudah termasuk usaha mikro. Izin administratif baru diperlukan jika berurusan dengan lembaga keuangan untuk mendapat pengesahan dari negara.

Sedangkan usaha kecil dan menengah biasanya harus sudah memenuhi syarat administratif tertentu. Karena untuk pengembangan jenis usaha tersebut memang membutuhkan bantuan baik secara hukum maupun finansial dari lembaga lainnya.

Untuk mendirikan usaha mikro, kecil, dan menengah saat ini sangat mudah secara administratif. Karena berdasarkan peraturan presiden nomor 98 tahun 2014, hanya ada 2 izin yang perlu diurus berbeda, yaitu IMB dan HO. IMB adalah Izin Mendirikan Bangunan (jika memiliki dan membangun kantor usaha sendiri) dan HO adalah Hinder Ordonantie alias izin gangguan terhadap lingkungan setempat.

Adapun izin lainnya (Izin Usaha, Izin Komersial Operasional, dan Izin Fasilitas) dapat diurus melalui OSS (online single submissioin) di https://oss.go.id/portal/. Prosedur dan syarat pengurusannya dapat Anda pelajari melalui grafik berikut. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat mengunjungi situs resmi pemerintah tersebut dan berkonsultasi dengan layanan pelanggan pada kontak yang tersedia.

Syarat UMKM

Jangan lupa sebelum mengurus izin usaha, Anda sudah mendaftarkan usaha Anda di Kemenkumham melalui notaris. Proses ini bersamaan dengan pembuatan akta pendirian organisasi di depan notaris. Dengan kemudahan syarat pendirian usaha tersebut, diharapkan akan sangat membantu perkembangan dunia bisnis dan investasi di Indonesia.

Tujuan UMKM

Peran usaha mikro, kecil, dan menengah dalam menggerakkan perekonomian bangsa Indonesia sangat besar dan signifikan. Di mana dibandingkan usaha besar, tiga level usaha tersebut menyerap lebih dari 97% tenaga kerja di Indonesia. Hal ini dapat terjadi karena jumlah usaha besar hanya 1% dibandingkan UMKM yang mencapai 99%.

grafik penyerapan tenaga kerja oleh UMKM
Grafik penyerapan tenaga kerja berdasarkan level usaha

Apalagi berdasarkan data BPS yang dirilis awal 2020 lalu, jumlah tenaga kerja informal masih lebih besar dibanding tenaga kerja formal. Yang mana dipahami bahwa tenaga kerja informal lebih banyak bekerja pada level usaha mikro, kecil, dan menengah dibanding dengan usaha besar.

jumlah pekerja formal dan informal
Perbandingan jumlah pekerja formal dan informal

Oleh karena alasan tersebut, pemerintah sangat memberikan perhatian pada pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah ini. Tujuan pemberdayaan UMKM sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang memiliki 3 poin.

  1. mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan.
  2. mengembangkan kemampuan UMKM sebagai usaha yang tangguh dan mandiri
  3. meningkatkan perannya dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.

Contoh UMKM

Apa contoh usaha mikro, kecil, dan menengah yang ada di sekitar kita? Sangat banyak. Secara ia menempati 99% atau hampir 64 juta usaha dari seluruh jenis usaha yang ada di Indonesia. Contoh-contoh usaha berdasarkan jenis UMKM antara lain sebagai berikut.

Usaha Kuliner

Contoh usaha mikro, kecil, menengah di bidang kuliner adalah rumah makan dan warung (warteg, warung Padang) di pinggir jalan. Bisa juga pedagang makanan keliling yang menjajakan makanan seperti tukang bakso, cilok, sate, dan sebagainya.

Usaha Perdagangan

Contoh usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang perdagangan adalah toko kelontong atau ritel kecil di kampung-kampung. Bisa juga berupa pedagang asongan yang keliling dengan gerobak atau kendaraan.

Usaha Konveksi

Contoh usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang konveksi adalah tukang jahit, penjual baju eceran, dan sebagainya.

Usaha Jasa

Contoh usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang jasa adalah bengkel, usaha fotokopi, les belajar, dan sebagainya,

Penggolongan UMKM berdasarkan jenisnya, menurut Badan Pusat Statistik  mencapai 17 golongan sebagaimana digambarkan pada tabel berikut.

jenis umkm dan krredit yang dikucurkan
Data jenis UMKM dan jumlah kredit yang dikucurkan per 2018 (dalam milliar)

Pajak UMKM

Penghitungan pajak UMKM didasarkan pada peraturan pemerintah nomor 23 tahun 2018 sebesar 0,5 % dari omset tahun pajak tersebut. Hal ini dengan syarat omset masih di bawah 4,8 milyar pada tahun tersebut.

Nilai ini mendapatkan penurunan dari sebelumnya sebesar 1%, tapi tarif pajak rendah ini memiliki syarat waktu. Usaha perorangan hanya dapat menikmati tarif ini selama 7 tahun. Sedangkan usaha bersama (koperasi, CV, Firma) selama 4 tahun, dan PT (Perseroan Terbatas) cukup 3 tahun saja.

Dengan kebijakan ini diharapkan usaha mikro, kecil, menengah tersebut sudah dapat berkembang dalam rentang waktu tersebut.

Strategi Pengembangan UMKM

Sebagai usaha yang masih dalam tahap awal, usaha mikro, kecil, dan menengah memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk berkembang.

Bagaimana cara mengembangkan UMKM dengan cepat di tengah situasi seperti sekarang ini?

strategi pengembangan Umkm

Berikut langkah-langkah strategis yang dapat Anda lakukan untuk mengembangkan usaha Anda.

1. Membangun Brand

Tanpa merek atau identitas, usaha Anda hanya akan menjadi angin lewat tanpa dapat menancapkan apapun dalam memori pelanggan. Brand atau merek merupakan hal utama yang wajib Anda sematkan pada usaha Anda.

2. Mendapatkan Legalitas

Untuk dapat berkembang dengan cepat, setiap usaha akan membutuhkan bantuan dari lembaga lain. Agar urusan tersebut lancar, usaha mikro wajib memiliki legalitas yang sah secara hukum. Anda dapat mengikuti langkahnya seperti yang dijelaskan di atas (lihat sub: Syarat UMKM)

3. Merapikan Administrasi

Administrasi yang rapi akan mendukung pengembangan usaha Anda secara maksimal. Apa saja yang perlu diadministrasikan? Sedikitnya ada 4: stok barang, manajemen karyawan, laporan keuangan, dan data pelanggan. Basis data yang rapi tersebut dapat menjadi senjata untuk pengambilan strategi maupun mendapatkan investor.

4. Mengikuti Festival dan Pameran

Gunakan festival atau pameran untuk mengenalkan produk atau layanan Anda. Ingat bahwa tujuan utama mengikuti event tersebut adalah untuk memperkenalkan brand Anda. Jadi pastikan alat pemasaran sudah Anda siapkan dengan baik sebelumnya. Tak perlu mengejar omset saat pameran, yang penting mengejar kontak pelanggan sebanyak mungkin.

5. Gunakan Teknologi

Perkembangan usaha Anda akan meningkat pesat dengan melibatkan teknologi pada prosesnya. Misal untuk administrasi, semuanya dapat menggunakan software atau aplikasi. Begitu juga dalam mencari informasi tentang festival dan pameran.

Akan lebih baik lagi jika usaha Anda memiliki situs resmi, baik yang bergerak di bidang penjualan (e-commerce) maupun jasa. Gunakan internet sebagai media pemasaran yang sangat powerful untuk mengembangkan bisnis Anda.

6. Kerjasama dengan Lembaga Keuangan

Untuk berkembang dengan cepat, Anda tentu akan membutuhkan modal. Untuk itu Anda butuh dukungan lembaga keuangan. Dengan bantuan teknologi, Anda tak perlu merisaukan persyaratannya. Akan mudah bagi Anda memenuhi syarat administratif dari lembaga keuangan manapun.

Penutup

UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dengan jumlahnya yang begitu banyak dan daya serap tenaga kerjanya yang terbesar. Mempelajari ciri dan karakteristiknya akan membantu Anda untuk mencari tahu di  mana posisi usaha Anda sekarang.

Ikuti langkah-langkah strategis pengembangan UMKM yang telah diuraikan untuk membantu bisnis Anda terus bertumbuh dan berkembang.