Tunggu Sebentar

 

PropertiStartupIde Start Up Properti dan Cara Monetisasinya

Sigid SetyoApril 5, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/04/ide-start-up-properti.jpg

Properti merupakan salah satu bidang yang diperkirakan akan berkembang secara stabil di Indonesia. Dengan laju pertumbuhan penduduk antara 3 – 8 % per tahun, pertumbuhan properti diperkirakan mencapai 7 – 20 % per tahunnya. Dengan cara ini, ide start up properti menjadi sangat berharga dan berpotensi besar.

Dari banyak start up properti yang berjalan saat ini, dapat dianalisasa model bisnis dan monetisasinya. Ini akan memberikan gambaran, insight, dan ide mengenai bisnis properti di Indonesia, khususnya.

Media Iklan Properti

Start up awal di bidang properti sering berupa media untuk mengiklankan properti. Pengelola tidak berbisnis di bidang properti, melainkan menyediakan sarana untuk para developer dan marketing mengiklankan properti mereka.

Bentuk iklannya bervariasi, mulai dari sekedar iklan baris menggunakan jaringan PBN, hingga iklan yang elegan dan lengkap. Paling umum adalah membuka sistem membership untuk anggota dapat mengupload properti yang ia jual di situs tertentu.

Dengan membangun sebuah data yang besar (big data) dari para anggota, pengelola dapat melakukan monetisasi dengan cara yang kreatif. Pengelola dapat menawarkan kepada pemasang iklan untuk membuat iklannya terlihat menonjol dibanding yang lain.

Caranya dengan ditampilkan di halaman awal pencarian, pemberian tanda premium, verified, star, dan semacamnya dengan biaya tertentu. Tentu ini memiliki syarat bahwa kunjungan ke situs tersebut mencapai batas minimum tertentu.

Contoh situs yang telah menerapkan hal ini adalah olxco.id, 99.co, dan lainnya.

Start Up Pembiayaan Properti Model Crowdfunding

Sejak disahkannya peraturan mengenai crowdfunding pada 2019 lalu, semakin banyak start up pembiayaan properti model crowdfunding.

Sistem ini sebenarnya bukan hal baru karena di Indonesia sering dikenal istilah urunan dan sumbangan. Teknologi internet membawa hal tersebut menjangkau orang yang lebih banyak dengan cakupan area yang lebih luas. Sistem administrasinya pun teratur oleh komputer sehingga mengurangi penyelewengan dengan transparansi yang baik.

Di sini, pengelola dapat berperan juga sebagai kontraktor, atau perantara investor dengan manajer properti. Adapun properti yang dikelola biasanya berupa tanah atau bangunan yang dapat disewakan. Pengelola akan melelang penyertaan berupa token atau saham yang dapat diperjualbelikan di dalam platform tersebut.

Monetisasi didapat dari biaya administrasi dan pengelolaan listing properti yang ditawarkan. Begitu juga saat penarikan hasil keuntungan, investor dapat dikenakan biaya withdrawal, meski tak terlalu besar.

Contoh yang telah menerapkan ide start up properti ini antara lain Gradana, Crowdfunding, dan lainnya. Informasi mengenai start up properti model crowdfunding dapat dilihat lebih lengkap di sini.

Start Up Konstruksi Properti

Ide start up properti lain yang dapat diterapkan adalah dengan menjadi perantara antara developer dengan arsitek atau kontraktor.

Developer besar biasanya telah memiliki langganan rekanan yang telah dipercaya atau melelang lewat tender atau sayembara. Bagi developer kecil, atau bahkan yang membangun rumah pribadi, jasa start up perantara ini sangat penting untuk digunakan.

Begitu juga bagi arsitek mandiri, kontraktor kecil, atau bahkan tukang bangunan. Perantara ini dapat menjadi kesempatan bagi mereka untuk menemukan proyek secara langsung tanpa alur dan syarat administrasi yang rumit.

Monetisasi dapat dilakukan dengan mengambil charge sebesar sekian % setiap kali sebuah proyek dipasangkan antara developer dengan kontraktor.

Contoh start up yang telah menerapkan ide ini antara lain Arsitag, MitraKeTukang, dan lainnya.

Ide Start Up Pengisi Rumah(Interior Properti)

Start up ini dapat menjadi perantara atau menjual secara langsung produk-produk terkait desain interior.

Sebagai perantara, pengelola dapat bekerja sama dengan anggota yang menjadi desainer atau arsitek interior. Untuk di bidang produk, pengelola dapat bekerja sama dengan supplier yang menawarkan barang-barang khusus untuk interior.

Monetisasinya dapat dilakukan dengan mengambil biaya setiap kali transaksi barang atau jasa terjadi. Contoh start up yang telah menerapkan sistem tersebut antara lain Dekoruma, Homify, Fabelio, dan lainnya.

Nah, ide start up properti tersebut mungkin sudah ada, tapi Anda dapat mengamati, meniru, dan memodifikasi sistem dan model bisnis tersebut. Dengan memberikan nilai tambah yang lebih dari yang lain, pasti Anda dapat bersaing dengan cukup mudah. Tertarik?