Tunggu Sebentar

 

E-CommerceUMKMLangkah Praktis Melakukan Studi Kelayakan Bisnis untuk Start Up

Sigid SetyoApril 3, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/04/studi-kelayakan-bisnis.jpg

Buat kamu yang sudah lama, maupun yang akan terjun ke dalam dunia bisnis, harus memahami dengan benar hal ini. Karena studi kelayakan bisnis yang akan menentukan apakah bisnis yang Anda inginkan layak untuk dijalankan.

Teori mengenai studi kelayakan bisnis sangat luas dan meliputi banyak hal. Di sini, akan dibahas bagaimana melakukan studi kelayakan bisnis tersebut secara praktis terhadap start up Anda.

(Note: langkah berikut dapat diterapkan pada bisnis model apapun dengan sedikit penyesuaian.)

1. Mengecek Dokumen Legalitas Kelayakan Bisnis

Melakukan sebuah bisnis akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak lain di luar dari perusahaan Anda. Agar perusahaan yang Anda jalankan dapat melakukan deal atau kesepakatan yang kuat, perusahaan harus terdaftar secara hukum. Dengan demikian, perusahaan akan mendapatkan perlindungan hukum dari yang berwenang.

Dokumen apa saja yang harus dicek pada tahap ini? Paling sedikit, ada 5 dokumen (di antara dokumen tersebut pengurusannya membutuhkan dokumen lain. Jadi jika sudah punya, berarti dokumen lain juga sudah ada).

  1. Akta notaris (Akta Pendirian Perusahaan)
  2. Surat Izin Lokasi Domisili
  3. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
  4. Nomor Izin Berusaha (NIB)
  5. Surat Kontrak Lokasi Kerja

2. Membuat Skenario Dampak dan Kelayakan Bisnis

Bisnis yang anda jalankan, sedikit banyaknya, pasti memberikan dampak kepada pihak terkait (pelanggan, supplier, dan sebagainya).

Dampak tersebut dapat dilihat dari segi budaya, sosial, dan ekonomi. Perubahan apa yang akan perusahaan Anda bawa di 3 bidang tersebut? Tulis perubahan tersebut dalam sebuah daftar yang terkategorikan ke dalam 3 bidang di atas.

Membuat daftar yang cukup panjang dan rasional akan meningkatkan nilai bisnis start up Anda di mata investor. Hal yang sama berlaku jika Anda seorang investor, paling tidak pertimbangkan hal tersebut jika ingin berinvestasi dalam bisnis start up.

3. Menghitung Potensi Pasar

Prinsip pertama dalam menjalankan bisnis adalah dengan bertanya, “Adakah yang mau beli?”

Pertanyaan ini akan membawa kepada sekian pertimbangan lainnya. Mulai dari jenis produk, sistem distribusi, branding & marketing, hingga penentuan harga jual layanan atau sistem monetisasi start up.

Pertanyaan tersebut juga akan memaksa untuk menghitung potensi pasar dari layanan yang Anda sediakan. Bagaimana cara menghitungnya? Dengan melakukan segmentasi dan profiling atau membuat user persona.

Mulai dari segi usia, daya beli, bidang yang digeluti, permasalahan, sikap dan perilaku pengguna, serta yang lainnya. Perhitungkan juga persaingan dari kompetitor. Dengan membuat persona secara rinci dan melakukan segmentasi, potensi pasar dapat diramalkan lebih akurat.

4. Melakukan Studi Analisa Keuangan

Analisa keuangan yang dimaksud meliputi modal dan sumbernya, pengeluaran-pengeluaran, perkiraan pendapatan, hingga waktu tercapainya ROI (Return of Investment). Penghitungan ini harus dilakukan secara rinci lengkap dengan pagu anggaran serta waktu penggunaan.

Sebagai masalah yang sensitif, semakin rinci perusahaan Anda dapat menyajikan analisa ini, semakin baik di mata investor. Tentu investor juga akan melihat seberapa mungkin rencana tersebut dilaksanakan dalam kondisi saat itu maupun akan datang.

Pastikan juga dalam penyusunan selalu berprinsip berharap yang terbaik dan bersiap yang terburuk. Dengan demikian akan ada ruang fiskal untuk melakukan manuver operasional yang mungin perlu dilakukan.

5. Merencanakan Proses Teknis dan Keterlibatan Jenis Teknologi

Proses teknis dalam perusahaan start up tentu berbeda dalam perusahaan industri, jasa konvensional, ataupun perdagangan. Bagaimana rangkaian proses teknisnya, sistem pengembangan apa yang akan digunakan, perlu untuk direncanakan.

Begitu juga soal keterlibatan jenis teknologi dalam proses tersebut. Jika perlu melakukan remote working, kerja dari rumah, atau outsourcing, seperti apa teknis dan teknologinya? Buat alur supaya lebih mudah untuk dicerna dan diikuti oleh investor maupun karyawan lainnya.

6. Membuat Struktur dan Sistem Manajemen Operasional

Seperti apa sistem operasional perusahaan start up Anda? Apakah menggunakan struktur yang sentralistik dengan komando terpusat. Atau lebih cair, secara desentralistik dengan distirbusi keputusan yang lebih renggang?

Ini juga akan menentukan jobdesc dan bagaimana karyawan Anda bekerja. Dalam bisnis start up, lebih disarankan untuk mempertahankan suasana yang lebih cair demi inspirasi dan kreativitas.

Nah, sudah mendapatkan insight seperti apa studi kelayakan bisnis dari start up Anda? Lakukan lebih cepat dan buat laporannya secara tertulis! Investor, supplier, maupun stakeholder lain pasti menyukainya.