Tunggu Sebentar

 

E-CommerceApa itu Waralaba: Pengertian, Sejarah, Keuntungan, dan Syarat Pengembangannya

Sigid SetyoApril 12, 2020
https://memulai.id/wp-content/uploads/2020/04/apa-itu-waralaba-1-1.jpg

Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata waralaba atau franchise? Bisnis? McDonald? Indomaret? Lainnya lagi?

Well, semua itu tak salah. Karena waralaba memang konsep yang digunakan oleh McDonald, Indomaret dan yang lainnya. Di mana dengan konsep tersebut, mereka, dan usaha Anda juga, bisa membuka hingga ratusan cabang dalam per tahunnya. Dahsyat, bukan?

Maka dari itu, Memulai.id pada kesempatan kali ini akan mengulas segala hal tentang waralaba yang perlu Anda ketahui. Simak baik-baik ulasannya agar Anda dapat menerapkannya untuk bisnis Anda nantinya.

Pengertian Waralaba

Jadi, sebenarnya apa itu waralaba, dan bagaimana sistem kerjanya hingga mampu mengembangkan bisnis dalam waktu yang begitu singkat?

Apa itu waralaba

 

Pengertian waralaba adalah sebuah hak atau wewenang untuk menjalankan sebuah model bisnis yang menjual produk atau layanan tertentu.

Itu pengertian waralaba dalam sudut pandang bisnis. Adapun menurut definisi perundang-undangan (PP. no 16 tahun 1997), waralaba adalah yang salah satu pihak diberikan suatu hak oleh pihak lain. Hak tersebut berupa wewenang untuk menggunakan hak kekayaan intelektual atau ciri khas usaha dengan imbalan dan persyaratan tertentu.

Ada juga definisi lain dari waralaba berdasarkan AFI (Asosiasi Franchise Indonesia)

“Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir dengan pewaralaba (franchisor) yang memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.” (Asosiasi Franchise Indonesia)

Dalam berbagai pengertian tersebut, kita mengenal 2 pihak yang terikat dalam waralaba ini:

  1. Pemberi waralaba (pewaralaba), disebut juga franchisor.
  2. Penerima waralaba (terwaralaba), disebut juga franchisee.

Setiap pihak memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang dapat berbeda-beda tergantung perjanjian yang telah disepakati oleh masing-masing. Namun, kurang atau lebihnya dapat disimpulkan sebagaimana berikut.

PihakHakKewajiban
Pewaralaba
  • Mendapatkan franchise fee (biaya waralaba) yang bisa berlaku setiap periode tertentu atau selamanya.

 

  • Memberikan dukungan pelatihan, penyediaan bahan, hingga pemasaran kepada penerima waralabaT
 Ter-waralaba
  • Mendapatkan lisensi untuk menggunakan merek, nama, sistem, prosedur, serta dukungan dari pewaralaba.
  • Menjalankan sistem dan model bisnis yang telah disepakati serta menjaga rahasia dagang pewaralaba.

Hak dan kewajiban kedua belah pihak harus tertuang secara jelas dan tertulis dalam sebuah perjanjian kerjasama waralaba (franchise agreement).

Sejarah Franchise

Konsep franchise tercatat pertama digunakan oleh Isaac Singer, tahun 1850-an, untuk meningkatkan distribusi dan penjualan mesin jahitnya. Meski tak langsung berhasil, namun konsepnya mulai dikenal oleh masyarakat.

Konsep ini semakin mendapatkan momennya ketika mulai digunakan pada industri makanan dan restoran cepat saji. Mulai dari restoran A&W, McDonald, KFC, Starbucks, hingga Es Teler 77 dan Kebab Turki Baba Rafi dari Indonesia.

Semakin lama, semakin banyak bidang bisnis yang menggunakan sistem lisensi ini. Mulai dari ritel (supermarket, minimarket), pendidikan (formal maupun non-formal), bahkan hingga kesehatan (apotek dan toko obat).

Ke depannya, model bisnis ini akan semakin banyak digunakan karena mendukung untuk pengembangan bisnis secara cepat dan saling menguntungkan.

Keuntungan Sistem Waralaba

Kenapa orang menyukai sistem bisnis ini? Apa keuntungan dari menggunakan sistem franchise ini bagi bisnis Anda?

Pertama, mari kita kupas keuntungan sistem franchise dari masing-masing pihak, yaitu pewaralaba dan terwaralaba.

Bagi pihak pemberi lisensi, keuntungannya adalah:

  1. Menambah cabang tanpa mengeluarkan modal yang besar (bahkan bisa saja tanpa modal sama sekali). Ini karena modal didapatkan dari biaya yang dibayarkan oleh terwaralaba. Selain itu, pihak pewaralaba juga dapat mengajukan perjanjian pembayaran royalti per periode tertentu jika mau dan disepakati.
  2. Meningkatkan rantai distribusi dan volume penjualan secara cepat dan masif. Ini karena pasokan bahan, peralatan, dan pelatihan, jelas, wajib berasal dari pewaralaba.
  3. Menaikkan branding perusahaan di mata masyarakat. Pewaralaba jadi dapat mengklaim telah memiliki sekian cabang, di mana saja. Tentu akhirnya akan meningkatkan kredibilitas dan trust dari para stakeholder. Yang akhirnya akan meningkatkan juga volume penjualan dan keuntungan.

Bagi penerima lisensi, keuntungannya berupa:

  1. Dapat langsung memulai bisnis tanpa tunggu waktu lama.
  2. Mengurangi bahkan menghilangkan biaya trial and error yang mana cukup besar dalam bisnis.
  3. Dapat langsung menjalankan bisnis yang sudah ready, terstruktur, dan teratur dengan baik. Mulai dari produksi, distribusi, pemasaran, pelatihan, hingga manajemen keuangan, semua sudah ada sistem yang langsung bisa dijalankan.
  4. Lebih cepat mendapatkan imbal hasil (ROI / Return of Interest) yang terukur dan terhitung dengan baik.

keuntungan sistem waralaba

Kerugian Sistem Waralaba

Sekilas terlihat sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Lalu adakah kerugian dalam menggunakan model bisnis franchise ini?

Tentu saja ada. Kesempatan dan risiko selalu hadir dalam secara bersamaan pada suatu momen atau peristiwa. Nah, apa saja kerugian masing-masing pihak yang “mungkin” terjadi dengan menggunakan sistem waralaba ini?

Kerugian pihak pewaralaba (franchisor):

  1. Sulit menjaga rahasia dagang. Karena begitu membuka rahasia sistemnya, ada kemungkinan akan ditiru: resep, prosedur, hingga manajemennya. Andainya sudah tak lagi bekerja sama, franchisee dapat saja menggunakannya untuk mengembangkan merek sendiri dengan sedikit “penyesuaian”.
  2. Branding terikat erat dengan franchisee. Manakala pihak terwaralaba tidak mampu men-delivery produk atau layanan dengan kualitas yang sama, branding-nya dapat saja jatuh bebas.
  3. Pada dasarnya tetap saja tidak benar-benar memiliki cabang. Karena secara aset, semuanya masih milik franchisee.

Adapun kerugian pada pihak ter-waralaba (franchisee) sebagai berikut.

  1. Tak ada kebebasan inovasi. Pihak franchisee biasanya terikat untuk menggunakan keseluruhan produk, prosedur, pelatihan, maupun sistem dari franchisor. Kalaupun mau membuat perubahan, harus ada pengajuan legal yang sah di mata hukum. Itu pun kalau pihak franchisor menyetujui, dan biasanya hanya terkait bahan pengganti (dalam bidang makanan/minuman).
  2. Ketergantungan pada franchisor. Ini terkait pengadaan bahan, sistem pelatihan, hingga dukungan manajemen dan pemasaran. Jika franchisor kurang commit dan tidak dapat melayani dengan baik, akan sulit mengembangkan bisnis. Karena itu pastikan bekerjasama dengan pihak pewaralaba yang terpercaya.
  3. Branding terikat erat dengan franchisor. Misalkan pihak pewaralaba atau ter-waralaba lain yang terjerat kasus yang menurunkan nama baik, franchisee dapat ikut menerima dampaknya.

kerugian sistem waralaba

Jika melihat dan membandingkan keuntungan serta kerugian menggunakan sistem bisnis waralaba, jelas keuntungannya lebih besar. Oleh karena itu, kerugian ini cukup disikapi dengan kewaspadaan agar tidak sampai mengakibatkan kerugian finansial semua pihak.

Syarat Mendirikan Usaha Waralaba (Franchisor)

Bagaimana menurut Anda, apakah menjalankan bisnis franchise cukup memiliki prospek yang menguntungkan atau merugikan?

Jika menurut Anda menguntungkan, mungkin Anda akan tertarik menjalankan model bisnis ini. Tertarik? Tertarik sebagai pihak franchisor atau franchisee?

Jika Anda sebelumnya telah memiliki bisnis, Anda dapat mempertimbangkan untuk menjadi franchisor atau pewaralaba. Jika sebaliknya, Anda perlu mempertimbangkan untuk membeli lisensi bisnis sebagai seorang franchisee.

Untuk menjadi pewaralaba, paling tidak, usaha Anda perlu melengkapi persyaratan berikut.

1. Memiliki Diferensiasi

Apa maksudnya diferensiasi dalam bisnis franchise ini?

Ciri khas, keistimewaan, sesuatu yang membuat usaha Anda berbeda dengan yang lainnya. Mau dari segi produk, layanan, sistem, logo, merek, dan lain-lainnya.

Kenapa harus memiliki diferensiasi ini?

Pertama, ini yang akan menjadi modal Anda dalam melakukan branding dan marketing. Tanpa diferensiasi, apa menariknya bisnis Anda sehingga orang mau bekerjasama memodali pengembangan usaha Anda?

Kedua, hal ini yang akan menjadi properti kekayaan intelektual yang dilindungi undang-undang. Dengan demikian, pihak lain yang tidak bekerjasama, membayar royalti fee dan lainnya, dapat dituntut secara hukum.

2. Mengajukan Perlindungan HAKI

HAKI merupakan hak atas kekayaan intelektual, yang mana berupa merek, resep, rahasia dagang, prosedur, sistem, dan lainnya dari bisnis Anda. Hak ini dilindungi undang-undang, berdasarkan UU nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual.

Untuk mendapatkan perlindungan atas properti intelektual tersebut, Anda perlu mendaftarkan HAKI Anda di Dirjen Kemenkumham. Pendaftarannya dapat Anda lakukan langsung di kantor mereka di tiap ibukota propinsi. Atau, bisa juga secara online di tautan: https://e-hakcipta.dgip.go.id.

Syarat mendirikan waralaba
Halaman pendaftaran HAKI online

Setelah terdaftar, berarti Anda telah memiliki perlindungan di mata hukum atas merek dan sistem franchise yang akan Anda jalankan. Jika Ada yang menggunakan merek atau sistem Anda tanpa izin, Anda dapat menuntut mereka secara hukum.

3. Menguntungkan dan Memiliki Laporan Keuangan yang Jelas

Bagaimana mungkin ada yang mau buka cabang usaha Anda jika tidak menguntungkan?

Makanya Anda perlu memastikan dan membuktikan bahwa usaha Anda menguntungkan untuk dijalankan.

Apa buktinya? Laporan keuangan yang jelas dan rapi dari auditor publik. Dari sini kredibilitas Anda dibangun.

4. Telah Memiliki Cabang Sebelumnya

Jika Anda belum memiliki cabang dan langsung membuat sistem franchise, orang akan meragukan kemampuan Anda. Karena belum terbukti laku.

Sebaliknya, jika Anda sudah memiliki paling tidak 3-5 cabang saja, yang mana harus untung, Anda bisa punya bukti bahwa sistem Anda berjalan dengan baik.

5. Memiliki SOP yang Mudah Diterapkan dan Diduplikasi

Kenyataannya, franchise merupakan sebuah duplikasi model bisnis dari bisnis induk yang sudah berjalan sebelumnya. Jadi, setelah Anda memiliki cabang, Anda dapat menganalisa dan membuat sebuat prosedur operasional standar (SOP).

SOP ini mencakup proses produksi, distribusi, pemasaran, serta manajemen keuangan dan karyawan. Pastikan bahwa SOP ini applicable, dapat diterapkan dalam ragam waktu dan tempat yang berbeda.

Syarat Menjalankan Usaha Waralaba (Franchisee)

Bagaimana jika belum punya bisnis, apa syarat untuk menjalankan usaha waralab sebagai franchisee?

Well, setiap pewaralaba biasanya mengajukan syarat-syarat tertentu bagi pihak yang ingin bergabung menjalankan waralabanya. Syarat ini berbeda-beda, tergantung pada bidang bisnis, kerumitan, serta ukuran usaha franchise yang dijalankan.

Misalnya, Anda mengambil waralaba internasional dan mengajukan lisensi master nasional, tentu syaratnya lebih besar dibanding waralaba nasional. Apalagi yang waralaba bisnis gerobak.

Untuk itu, Anda perlu berkonsultasi langsung dengan pihak pewaralaba. Kalau terjadi deal, sangat mungkin akan disusun surat perjanjian waralaba antara Anda sebagai franchisee dengan franchisor tersebut.

Sebagai rangkuman, untuk mempertajam pemahaman Anda, silakan lihat video pengenalan tentang waralaba berikut.

Contoh Surat Perjanjian Waralaba

Seperti apa surat perjanjian waralaba?

Contoh suratnya dapat Anda lihat pada lampiran berikut. Jika perlu, Anda dapat mengunduh dan memodifikasinya sesuai dengan kesepakatan antara franchisor dengan franchisee.

Berikut contoh surat perjanjian waralaba pendirian minimarket lokal Indonesia.

Nah, sudah jelas mengenai apa itu bisnis waralaba, keuntungan dan kerugian, serta syarat menjadi pewaralaba atau terwaralaba, kan? Sekarang tergantung Anda ingin memilih sebagai apa. Yang jelas, konsep bisnis franchise ini jelas merupakan salah satu kunci memulai dan mengembangkan bisnis Anda dengan cepat dan hemat.